EQUITYWORLD FUTURES – Potensi bisnis industri udang nasional dinilai cukup besar seiring dengan bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Akan tetapi, ada sejumlah hambatan yang dihadapi oleh industri udang Tanah Air, yakni rendahnya tingkat penerapan teknologi, pembangunan infrastruktur yang tidak merataserta kurangnya integrasi antara pemroses di hilir dan petambak di hulu.

Konsultan Ipsos Consulting Indonesia Juanri, menuturkan dengan iklim tropis yang hangat dan garis pantai sepanjang 81.000 km, Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang sangat tinggi di sektor budidaya perairan, khususnya industri udang.

“Agar tetap kompetitif, budidaya perairan di Indonesia harus mengadopsi peralatan dan teknik produksi yang modern. Namun, mayoritas pelaku budidaya perairan terdiri dari industri rumah tangga yang mungkin tidak memiliki modal dan keterampilan yang memadai untuk memodernisasi teknik pertanian mereka,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (22/10/2015).

Menurut Juanri, kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah diperlukan untuk mempercepat modernisasi di sektor budidaya perairan di Indonesia. Bagaimanapun, ketersediaan bantuan keuangan dan teknis untuk para petambak ini masih menjadi pekerjaan yang tidak mudah.

Sementara itu, Country Manager Ipsos Consulting Domy Halim mengatakan petambak yang berada jauh dari pusat perdagangan harus mengatasi tantangan logistik yang lebih besar untuk mendistribusikan produk mereka.

Adapun Sekretaris Jenderal Shrimp Club Indonesia (SCI), Andi Tamsil menyampaikan, bahkan di Jawa Timur sebagai daerah paling produktif penghasil udang pun masih mengalami kesulitan pasokan listrik.

“Bagi petambak udang disana, pasokan listrik yang bermasalah dari PLN membuat mereka harus mengeluarkan biaya lebih banyak bila harus menggunakan genset,” ujarnya.