EQUITYWORLD FUTURES – Presiden Joko Widodo menjadi perhatian khusus dalam perhelatan APEC di Beijing. Sebagai salah ‘pendatang baru’ Jokowi menampilkan gaya yang berbeda dengan para pemimpin dunia yang hadir dalam forum itu.

Puncaknya, saat Jokowi tampil menjadi pembicara dalam forum yang dihadiri para CEO. Tidak seperti kepala negara lain, Jokowi tidak berpidato melainkan menyampaikan presentasi.

Jokowi menjelaskan fokus pembangunan pemerintahannya, yaitu konektivitas maritim dengan membangun 24 pelabuhan, transportasi massal, dan pembangkit listrik 35.000 MW.

Jokowi berterus terang adanya sejumlah masalah yakni birokrasi perizinan, pembebasan lahan, hingga ketersediaan listrik. Tapi dia meyakinkan, hambatan-hambatan itu akan segera berakhir. Dia menunjukkan pengalaman menyelesaikan masalah pembebasan lahan yang macet bertahun-tahun.

Berbagai pujian mengalir untuk Jokowi yang telah berhasil menyita perhatian para pemimpin dunia di APEC. Namun masih ada juga yang mengkritisi Jokowi.

Dari kubu Koalisi Merah Putih, tidak semua politikus mencibir, masih ada yang memuji. Apa saja sindiran dan pujian para politikus KMP? Berikut rangkumannya:

1. Desmond: Jokowi di APEC kayak penjual

 

Di mata Politikus Partai Gerindra Desmond Junaidi Mahesa, gaya Jokowi di APEC layaknya seorang pedagang yang sedang menawarkan barang dagangannya.

“Pidatonya bicara investasi, ini kapasitasnya sebagai presiden atau kepala BKPM? Hari ini seolah-olah merangkap segalanya,” kata Desmond Mahesa di kompleks parlemen Senayan Jakarta, Selasa (11/11).

Menurut Desmond, Jokowi tak menampilkan diri sebagai seorang kepala negara. “Bukan decision maker, kayak penjaja, penjual. Agak susah kita berkomentar,” cetusnya.

Lanjut dia, ajang seperti APEC harus dilihat asas manfaatnya bagi Indonesia. Jika tak menguntungkan maka presiden tak perlu untuk hadir dalam acara tersebut.

“Apapun pertemuan internasional, kita lihat efeknya, dampaknya apa bagi bangsa ini. Kalau tidak bermanfaat tidak perlu hadir, bukan untuk gagahan bisa bahasa Inggris kayak SBY,” pungkas dia.

2. Amien Rais puji pidato Jokowi di APEC

 

 Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais memuji penampilan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Beijing, China. Terutama saat bertemu dengan para pemimpin perusahaan-perusahaan ternama.

“Saya tidak melihat semuanya tapi saya sempat beberapa menit melihat. Menurut saya cukup bagus. Sambutan dari para delegasi juga bagus. Sekarang tinggal bagaimana follow up-nya,” kata Amien Rais di Hotel Gran Melia Jakarta, Selasa (11/11).

3. Taufik Kurniawan: Asal tak pakai bahasa Jawa

 

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan angkat bicara atas pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) di KTT APEC China. Dia menilai apa yang disampaikan Jokowi dengan bahasa Inggris telah sesuai dengan posisinya sebagai kepala negara.

“Kecuali kalau semuanya mengerti bahasa Indonesia (pidato Jokowi berbahasa Inggris). Asal jangan pakai bahasa Jawa saja,” kata Taufik Kurniawan di kompleks parlemen Senayan Jakarta, Selasa (11/11).

Menurutnya pidato Jokowi yang lebih terlihat sebagai presentasi itu adalah berisi poin-poin penting. Isi pidato Jokowi pun telah memaparkan kebutuhan-kebutuhan Indonesia ke depan.

“Apapun itu adalah langkah yang sangat penting. Menyampaikan bahwa beberapa hal-hal strategis mengenai Indonesia,” terang dia.

Lanjut dia, penggunaan bahasa Inggris Jokowi dalam pidato itu pun tak melanggar konstitusi. Penggunaan bahasa apa pun merupakan sesuatu yang situasional.

“Saya pikir (pidato pakai bahasa Inggris) itu situasional. Tinggal kita mencermati mau lihat dari sisi yang mana,” pungkas dia.

4. PKS: Jokowi di APEC seperti gadis yang menelanjangi diri sendiri

 

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq menilai misi pemasaran Presiden Jokowi di forum APEC di Beijing minim visi politik. Menurut Mahfudz, dalam forum APEC, Jokowi seharusnya menyatakan juga visi dan sikap politiknya yang mendasari semua tawaran kerjasama ekonomi dan investasi.

“Misalnya poros maritim dari politiknya bagaimana. Garis kebijakan yang harus dinyatakan agar kedaulatan NKRI tetap terjaga dan dihormati,” kata Mahfudz seperti dikutip Antara di Jakarta, Rabu (12/11).

Mahfud sangat menyayangkan kesempatan yang ada di forum resmi maupun tidak resmi di APEC tidak digunakan Presiden Jokowi untuk menyampaikan dan menegaskan visi dan sikap politik Indonesia.

Hal itu menurut dia terkait kerja sama regional yang diwarnai pertarungan kepentingan aktor-aktor besar seperti China, Rusia dan Amerika Serikat (AS). “Tawaran kerja sama dan investasi dengan para aktor besar dan presentasi di forum CEO lebih gambarkan visi presiden sebagai marketing officer,” ujarnya.

Selain itu menurut dia, jika dikaitkan dengan gagasan poros maritim yang bermakna membuka wilayah perairan Indonesia ke pemain-pemain besar dunia, bisa berakibat jebolnya pagar wilayah kedaulatan maritim sebagai pintu masuk ke Indonesia.

Dia mengatakan wilayah daratan Indonesia akan jadi bancakan investor infrastruktur dari berbagai perusahaan multinasional asing. “Apabila kondisi itu terjadi, bisa berbahaya,” tegas Wasekjen PKS ini.

Mahfudz mengatakan Deklarasi Juanda yang menegaskan pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap wilayah NKRI bisa porak-poranda. Menurut dia, harus diingat bahwa dalam forum APEC meski fokus pada isu ekonomi namun sarat dengan kebijakan dan kepentingan politik negara pemain besar.

“Paparan presiden yang ‘full marketing’ tapi minim kebijakan politik seperti gadis yang sedang menelanjangi diri untuk persilakan semua laki-laki menjamahnya atas nama investasi,” katanya.

Dia menegaskan berdasarkan konstitusi dan Undang-Undang Perjanjian Internasional, kebijakan-kebijakan luar negeri pemerintah yang fundamental dan berimplikasi luas harus dikonsultasikan lebih dulu dengan DPR.