EQUITYWORLD FUTURES – Christopher Daniel Sjarif (23), pengemudi Outlander maut yang tewaskan 4 orang di Pondok Indah ternyata positif konsumsi narkoba jenis LSD (Lycergic Syntetic Diethylamide). Hasil tersebut setelah polisi memeriksa urine dan darah Christopher.

Di dunia hitam, narkoba berbentuk seperti kertas itu biasa disebut ‘Smile’. “Harganya cukup mahal, 1×1 sentimeter harganya bisa sampai Rp 300 ribu,” kata Martinus.

Direktur Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri Brigadir Jenderal Arman Depari pernah menuturkan, LSD sempat ‘booming’ di Indonesia pada 1990. Dari wujudnya yang seperti kertas, LSD sepintas tampak tidak berbahaya. Namun, efek yang ditimbulkan sama berbahaya dengan narkoba jenis lainnya.

“Ini golongan narkoba yang cukup berbahaya,” kata Arman dalam jumpa pers di Gedung Direktorat IV Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Timur, November 2013 silam. Saat itu, Polri baru saja mengungkap perdagangan narkoba jenis tersebut.

LSD, lanjut Arman, biasanya berbentuk lembar persegi berukuran sekitar 10 x 10 cm dengan isi sekitar 100 potongan kecil yang dapat disobek untuk digunakan. Tiap sobekannya sekitar 1 x 1 sentimeter, cukup diletakkan di bawah lidah.

Reaksi yang muncul, ungkap Arman, sama dengan narkotika lainnya, yakni menyebabkan pengguna mengalami depresi dan juga halusinasi, euforia, dan juga kecanduan.

“Pada kertas LSD, ada gambar naga terbang. Banyak beredar di Eropa dan Amerika,” ujarnya.

Namun, siapa sangka jika CEO Apple Steve Jobs dulu pernah doyan konsumsi LSD. Bahkan, Jobs mengatakan pernah berhalusinasi dengan sangat nyaman dan tenang.

“Saat itu indah sekali, Aku sering sekali mendengarkan musik komponis Johann Sebastian Bach. Mendadak ladang gandum seolah bisa memainkan musik Bach. Itu adalah perasaan paling indah dalam hidupku sejauh itu. Aku merasa menjadi konduktor dari simfoni ini dengan Bach keluar melalui ladang gandum,” kata Jobs dalam buku Steve Jobs by Walter Isaacson, Penerbit Bentang, 2011.