EQUITYWORLD FUTURES – Pada musim pilpres lalu, Joko Widodo (Jokowi) kerap menerima serangan dari lawan politiknya. Salah satunya adalah tudingan bahwa politikus PDI Perjuangan itu berideologi komunis.

Jokowi sudah berkali-kali membantah. Namun, para lawan politik tetap saja melancarkan tudingan tersebut. Bahkan kini, hingga Jokowi sudah memenangi Pilpres 2014 dan duduk di kursi presiden, tudingan tersebut ternyata belum surut.

Entah apa maksudnya, sejumlah politikus lawan politik Jokowi mengipaskan lagi isu komunisme tersebut. Misalnya, politikus Golkar, Gandung Pardiman, yang menyebut gagasan Revolusi Mental ala Jokowi berasal dari buku Das Kapital, karya Karl Marx, bapak komunisme.

Berikut tudingan terhadap Jokowi terkait komunisme sejak musim pilpres sampai sekarang:

1.Fadli Zon tuding Revolusi Mental ala Jokowi berbau komunis
Pada musim pilpres lalu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon pernah menuding visi misi ‘Revolusi Mental’ ala Jokowi berakar kuat dari tradisi paham komunis.

“Indonesia tak ada hub dg NAZI, yg ada dg komunis. Nah ‘Revolusi Mental’ punya akar kuat tradisi paham komunis,” kata Fadli Zon dalam akun twitternya, Kamis 26 Juni lalu.

Menurut Fadli, bapak komunis Karl Marx menggunakan istilah Revolusi Mental pada tahun 1869 dalam karyanya ‘Eighteenth Brumaire of Louis Bonapartem’. Selain itu, lanjutnya, Revolusi Mental juga jadi tujuan ‘May Four Enlightenment Movement’ di China 1919 diprakarsai Chen Duxui, pendiri Partai Komunis China.

Sedangkan di Indonesia, kata sekretaris tim pemenangan Prabowo – Hatta itu, Revolusi Mental digunakan tokoh-tokoh berhaluan kiri untuk menghapus sesuatu yang berbau agama.

“Aidit PKI, hilangkan nama Achmad dr nama depannya n ganti dg Dipa Nusantara (DN) dg alasan ‘Revolusi Mental’ yaitu hapus yg berbau agama,” ujarnya.

Sedangkan Budayawan Goenawan Mohamad memiliki pandangan berbeda soal Revolusi Mental. Menurutnya, program Jokowi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ideologi komunis.

“Ada yg menuduh, “Revolusi Mental” anjuran Jokowi berasal dari Manifesto Komunis… Saya baca Manifesto Komunis; tak ada anjuran spt itu,” katanya.

Uniknya, meski telah menuding ide Jokowi berbau komunis, Fadli ternyata pernah ziarah makan bapak komunisme, Karl Marx di Inggris Dalam foto yang beredar di media sosial , Jumat (27/6), Fadli tampak membawa seikat mawar merah dan meletakkannya ke nisan mendiang pencetus Manifesto Komunis itu.

Tidak jelas kapan foto itu diambil. Namun yang pasti, di foto itu Fadli tidak segemuk sekarang. Kemungkinan besar foto itu diambil saat Fadli kuliah di London School of Economics, yang berlokasi di negara yang sama dengan makam Marx.

Tidak hanya menziarahi makam Marx, di akun Facebook-nya Fadli juga tampak pernah berfoto dengan patung lilin Vladimir Lenin, tokoh revolusioner komunisme di Uni Soviet. Bahkan dalam keterangan foto itu, Fadli menyebut Lenin dengan ‘kamerad’, panggilan sesama anggota partai komunis.

“Dengan Kamerad Lenin di Madame Tussaud,” tulis Fadli di Facebook-nya.

2. Kivlan Zen sebut ada bau-bau komunis di belakang Jokowi
Dalam musim pilpres lalu, Jokowi tak henti-hentinya dituding komunis oleh ku Prabowo. Setelah Fadli Zon, Tim sukses Prabowo – Hatta , Kivlan Zen menuding ada ideologi komunis di belakang Capres Joko Widodo ( Jokowi ).

Hal itu disampaikan oleh Kivlan di Hotel Crowne, Jl. Gatot Subroto Jakarta, Kamis (26/6).
“Di bidang ideologi, paham-paham komunis emang sudah tidak eksis. Namun masih ada sampai sekarang segelintir dari nomor dua,” kata Kivlan Zen.

Menurutnya, indikasi penganut komunis itu terlihat dari sebutan kawan pada pendukung Jokowi. Sebutan itu adalah panggilan kamerad untuk para aktivis komunis.

“Ada foto-foto Jokowi yang bertuliskan kawan Jokowi. Sebutan kawan itu sama-sama sebutan kamerad, itu bau-bau PKI, bau-bau komunis,” terangnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan adanya informasi dukungan China untuk membangunkan kembali ideologi komunis. Hal itu terlihat dari banyaknya propaganda yang menyerang wacana nasionalisme yang didengungkan Prabowo .

“Saya mendetek China akan memberikan Rp 15 triliun jika dapat membangun komunis di Indonesia. Sekarang ada indikatornya propaganda dan agitator menjelek-jelekkan Prabowo,” ujarnya.

Sementara itu, Kawan Jokowi, salah satu relawan pendukung capres nomor satu ini, membantah tudingan Kivlan bahwa pihaknya berbau-bau komunis. “Pernyataan Pak Kivlan bahwa kata Kawan identik dengan komunis adalah pernyataan tidak berdasar dan dangkal!! Dan ini merupakan bentuk kampanye hitam murahan yang bermaksud memecah belah persatuan bangsa,” kata Sekretaris Jendral Kawan Jokowi , Ivanhoe, seperti keterangan tertulis, Selasa (1/7).

Ivan menjelaskan, ‘kawan’ dalam Kamus Bahasa Indonesia sama dengan sahabat/teman, oleh karena itu ada terminologi setiakawan.

“Mungkin Pak Kivlan lupa kalau Hari Ke-setia-kawan-an Sosial Nasional yang diperingati setiap tgl 20 Desember di Indonesia didasarkan atas peristiwa ketika terjadi kemanunggalan TNI dan rakyat persis sehari setelah agresi militer Belanda. Dua kekuatan TNI dan rakyat Bersatu Bahu membahu dalam perjuangan bersenjata melawan penjajahan belanda pada 20 Desember 1948,” papar Ivan.

Ivan menambahkan, kesetiakawanan yang tulus dilandasi rasa tanggung jawab yang tinggi kepada tanah air menumbuhkan solidaritas bangsa yang kuat untuk membebaskan tanah air dari cengkeraman agresor. “Atas Dasar itulah tgl 20 Desember ditetapkan sebagai hari Kesetiakawanan Sosial Nasional oleh pemerintah RI,” papar Ivan lagi.

Oleh karena itu, menurut Ivan, tudingan komunis itu merupakan sesuatu yang serius dan tidak berdasar. “Apalagi keluar dari mulut seorang purnawirawan jenderal,” tegasnya.

3. Demonstran pro-Prabowo tuding Jokowi antek PKI
Setelah KPU menyatakan pasangan Jokowi-JK memenangi Pilpres 2014, isu komunisme juga tetap disuarakan kubu Prabowo-Hatta ketika mereka menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK). Tudingan itu dilontarkan para demonstran yang beraksi di depan gedung MK.

Menurut salah satu orator, Diadari, selama masa pemilu presiden, kubu Jokowi – Jusuf Kalla penuh kecurangan.

“Jokowi curang kita harus hati-hati karena paham komunis bisa bangkit dan antek PKI,” ujar Diadari dari atas mobil.

Sang orator juga mengatakan kalau Prabowo banyak dizalimi saat pilpres berlangsung. Salah satunya adalah mengungkit-ungkit masa lalu Danjen Kopassus itu.

“Media partisan selalu menjelekan Prabowo ,” katanya.

“Betul…betul,” jawab massa lainnya.

4. Golkar DIY curiga Revolusi Mental buah pikir Karl Marx dan Aidit

 

Setelah menang Pilpres 2014 dan duduk di kursi presiden, Joko Widodo (Jokowi) tetap diserang dengan tudingan komunisme. Ketua DPD I Golkar DIY, Gandung Pardiman, menuding
gagasan Revolusi Mental yang digaungkan oleh Presiden Jokowi dan juga Koalisi Indonesia Hebat (KIH) merupakan pemikiran Karl Marx seperti dalam buku Das Kapital dan juga pemikiran DN Aidit tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Saya mengikuti gagasan revolusi mental, revolusi mental itu apa? Kita ikuti terus, kalau sumbernya buku Das Kapital, yang nulis siapa itu, Karl Marx, atau tokoh komunis China atau Aidit kita harus waspadai,” kata Gandung pada wartawan di kantor DPD Golkar DIY, Kamis (13/11).

Anak buah Aburizal Barkie, ketua umum Golkar, ini juga mengkritik Pusat Studi Pancasila UGM yang mendukung gagasan revolusi mental tersebut. “Kenapa pusat studi pancasila UGM malah mendukung? Apa benar itu berdasarkan Pancasila?” lanjutnya.

Dia mempertanyakan Pusat Studi Pancasila UGM justru tidak melakukan studi Pancasila karena mendukung pemilihan langsung dalam pilkada yang tidak sesuai dengan sila ke-4 Pancasila.

“Pusat studi Pancasila justru mendukung pemilihan langsung. Dimana letak studi Pancasilanya? Itu saja sudah tidak sesuai dengan sila ke-4, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dalam permusyawaratan perwakilan,” tandasnya.

Karena itu Gandung menekankan Koalisi Merah Putih harus diperkuat untuk membendung paham-paham yang tidak sesuai Pancasila kembali muncul di Indonesia.

“Ada upaya penghapusan Tap MPR nomor 25 yang melarang paham komunis. Depdagri sudah membolehkan bisa mencantumkan atau mengosongkan kolom agama di KTP. Agama itu identitas seseorang di negara Pancasila ini,” terang Gandung.

5. Jokowi marah dituding komunis
Terhadap segala tudingan yang menyebutnya komunis pada musim pilpres lalu, Jokowi pernah membantah berkali-kali. Bahkan, dia marah besar dituding sebagai kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Jokowi menyebut hal itu sebagai penghinaan besar.

“Isu yang menyebut saya PKI adalah penghinaan. Berulang kali saya jelaskan bapak dan ibu saya itu dua-duanya haji. Keluarga saya sudah jelas. Orang juga sudah kenal semua. Kakek saya lurah dari Karanganyar. Kalau kakek dari ibu adalah pedagang kecil. Mau sampai kakek canggah pun sama alurnya seperti itu,” kata Jokowi di Palembang, seperti dikutip dari Antara, Rabu (25/6).

Jokowi mengatakan, kampanye hitam berupa isu seperti itu merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab sehingga akan sulit untuk ditindaklanjuti.

“Kalau seperti ini saya mau marah tapi marah ke siapa? Betul-betul menjengkelkan,” urainya.