EQUITYWORLD FUTURES – Beberapa tahun lalu, ada festival dengan tema “Maumere Manise” di Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur untuk mempromosikan keunikan-keunikan obyek wisata setempat. Wisatawan mancanegara (wisman) berwisata ke Kabupaten Sikka karena tertarik dengan pemandangan bawah laut Teluk Maumere.

Sejalan dengan bangkitnya pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Maumere, sejumlah pelaku pariwisata dan pemandu wisata membangun hotel dan cottages yang bernuansa alam. Bahkan, konsep hotel dengan keaslian alam dapat dijumpai di seluruh Pulau Flores untuk menarik wisatawan.

Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka merupakan pintu masuk wisatawan dari bagian Timur menuju ke bagian Barat. Ada berbagai tempat unik yang dapat dikunjungi wisatawan, wisatawan akan berwisata ke Pulau Palue untuk menyelam, snorkeling. Bahkan di Pantai Wairhubing, wisatawan bisa snorkeling untuk melihat berbagai jenis ikan dan terumbu karang yang masih terjaga dengan baik. Bahkan, ada Museum Ledalero, serta tempat-tempat unik yang berada di seputar Kota Maumere.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Wairhubing Beach Eco Cottages and Restaurant di Desa Wairhubing, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Wisman sangat senang dengan menginap di hotel yang bernuansa alam, kesejukan, ketenangan, ketentraman dalam menghabiskan waktu liburan.

Satu hotel yang menyuguhkan keaslian alam adalah Wairhubing Beach Eco Cottages and Restaurant milik Ignasius Kasar yang terletak di pinggir pantai Wairhubing. Pemilik hotel yang juga pemandu wisata senior di Pulau Flores ini membangun hotel dengan konsep bernuansa alamiah. Wairhubing Beach Eco Cottages and Restaurant berada di Desa Wairhubing, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Wairhubing Beach Eco Cottages and Restaurant memiliki taman wisata kecil yang terdiri dari pohon kelapa, serta berbagai jenis bunga, bahkan tamu bisa mengambil menu makanan langsung dari alam, seperti lombok, bahkan pemiliknya memelihara vanili serta kolam kecil. Di sudut-sudut taman, ada berbagai jenis alat tradisional hasil kreatif orang-orang Flores. Bahkan, hotel itu bernuansa alam Flores pada umumnya.

Ignasius Kasar, pemilik Wairhubing Beach Eco Cottages and Restaurant kepada KompasTravel di Maumere, Kamis (14/8/2015) menjelaskan, perencanaan membangun hotel bernuansa alam dimulai sejak 2011 dan mulai dibangun pada 2012.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Anak-anak sedang bermain di Pantai Wairhubing, Desa Wairhubing, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Hotel ini mulai menerima tamu sejak 2013. Atap hotel ini dengan daun ijuk dan kamar-kamarnya bernuansa keaslian dengan kain Flores. Bahkan kamar mandi ini dengan konsep terbuka dengan alam.

“Saya membangun hotel ini dengan nuansa keaslian alam. Sejak saya menjadi pemandu wisata di Pulau Flores, tamu selalu mencari hotel yang bernuansa alamiah. Saya sudah keliling Indonesia mengantar tamu, mereka selalu mencari hotel untuk menginap dengan nuansa alami sesuai keindahan alam di Indonesia,” jelasnya.

Ignasius menjelaskan, sejak menerima tamu pada 2013, sejumlah tamu mancanegara dari Belanda, Spanyol dan Eropa menginap di hotelnya. Kesannya, wisatawan sangat tertarik dengan nuansa hotel yang sepi, tenang dan jauh dari keramaian.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Wisatawan di Pantai Wairhubing, Desa Wairhubing, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

“Saya membangun hotel ini dengan modal sendiri. Saya mempromosikan konsep hotel yang bernuansa alami sesuai dengan keaslian alam di Pulau Flores. Wisatawan berwisata ke Pulau Flores untuk berpetualang sambil melihat danau tiga warna di Moni, Kabupaten Ende sampai di Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat,” jelasnya.

Menurutnya, wisman berkunjung ke Pulau Flores karena tertarik dengan keunikan alamnya, mulai dari Teluk Maumere di Kabupaten Sikka, Danau Tiga Warna Kelimutu di Kabupaten Ende, Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, Padang Savana Mausui di Kabupaten Manggarai Timur, Kampung Adat Waerebo di Kabupaten Manggarai sampai Taman Nasional Komodo dan menyelam di bawah laut di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores.