EQUITYWORLD FUTURES – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang dan BEM Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) protes terhadap Presiden Joko Widodo karena tidak diundang ke Istana Negara.

Sejumlah pengurus BEM Unwira dan Undana yakni Armindo Moniz Amaral, Devidson Keba Lendi, Marko Gani, Longinus Lebu dan Japalani kepada Kompas.com, Senin (18/5/2015) malam meminta Presiden Joko Widodo untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap BEM di NTT.

“Malam ini (18 Mei 20015) tepatnya jam 19.00 WIB, Presiden Joko Widodo mengundang BEM se Indonesia untuk berdialog di Istana Negara. Undangan tersebut, telah sampai ke tangan BEM masing-masing yang ada di pulau Jawa dan sekitarnya terkecuali NTT. NTT yang merupakan salah satu Propinsi di Indonesia tidak diundang untuk mengikuti dialog tersebut. Hal ini yang menimbulkan rasa kekecewaan BEM NTT terhadap Presiden yang menganaktiran BEM NTT,” tegas Armindo yang diamini rekannya yang lain.

Atas sikap Presiden yang tidak mengundang BEM di dua universitas yang ada di Kota Kupang itu, membuat pengurus BEM menyampaikan sejumlah tuntutan sikap, di antaranya meminta klarifikasi atas tidak diundangnya BEM NTT untuk mengikuti dialog di Istana Negara. Kemudian meminta Presiden Joko Widodo, untuk tidak menganaktirkan seluruh BEM se Indonesia, karena mahasiswa adalah anak kandung dari Negara.

BEM Unwira dan Undana mendesak, apabila tidak segera mengklarifikasi terhadap tidak diundangnya BEM NTT untuk mengikuti dialog malam ini, maka BEM NTT akan mengirim surat mosi tidak percaya ke Istana Negara.