EQUITYWORLD FUTURES – Memiliki keterbatasan fisik tidak membuat Achmad Dzulkarnain, pemuda asal Desa Benelanlor, Kecamatan Kabat, berkarya. Dia menghasilkan banyak foto dari pekerjaannya sebagai fotografer.

Kepada Kompas.com, Rabu (19/8/2015), lelaki yang akrab dipanggil Dzuel ini mengawali kariernya di dunia fotografi sebagai tukang foto KTP di desanya selama empat tahun dengan kamera pinjaman dari tetangganya.

“Saat lulus SMA saya berencana meneruskan kuliah di Surabaya tapi ditolak oleh beberapa kampus karena kondisi saya seperti ini. Akhirnya saya kembali ke desa jadi tukang foto KTP,” ungkap Dzuel.

Dari pekerjaannya itu, anak bungsu dari tiga bersaudara tersebut memberanikan diri untuk membeli kamera DLSR secara kredit selama 18 bulan hingga akhirnya dia memiliki kamera sendiri.

“Hasil tabungan jadi tukang foto KTP saya jadikan uang muka agar saya punya kamera sendiri dan alhamdulilah sekarang sudah lunas. Tapi bukan kamera yang mahal ya. Kamera saya yang paling murah,” katanya sambil tertawa.

Dia ingat, saat pertama kali mempunyai kamera dia memotret momen pre-wedding sahabatnya. Dzuel mengaku, hasilnya jauh dari sempurna.

“Awalnya saya motret sendirian tapi akhirnya memilih untuk bergabung dalam komunitas. “Kalau sendirian itu ilmunya kurang. Kalau bergabung dengan komunitas saya banyak belajar dari teman teman lainnya,” jelasnya.

Bersama komunitas fotografinya, dia sering diajak berburu (hunting) foto, baik mengambil gambar model ataupun pemandangan. Namun, dia mengaku lebih suka memotret di luar ruangan dengan alasan tantangannya lebih sulit.

“Banyaknya sih motret untuk koleksi pribadi dari modelnya di outdoor. Tapi pernah juga motret pemandangan tapi jarang karena saya sama kamera pernah jatuh di sawah saat motret pemandangan,” jelasnya.

Selama bulan Agustus, dia mengaku banyak menerima order memotret pada saat karnaval.

“Selama itu halal dan mengasah kemampuan fotografi saya kenapa tidak saya lakoni?,” ungkap anak pasangan dari Suwandi dan Uliyah.

Saat bekerja di lapangan, dia mengaku tidak mendapatkan diskriminasi dari sesama rekan fotografer. Bahkan, dia diberi kesempatan untuk memilih sudut pengambilan gambar atau angle yang tepat.

“Dengan kondisi tubuh seperti saya memang tidak mudah untuk mengambil angle tapi teman teman selalu memberikan kesempatan terlebih dahulu,” ceritanya.

Hanya saja, dia mengaku sering terluka di tubuh bagian bawah karena panas dari aspal.

Minder dan ingin bunuh diri

Terlahir sebagai seorang difabel yang tidak memiliki tangan dan kaki sempat membuat Dzuel merasa minder dan ingin bunuh diri. Perbedaan fisiknya baru disadarinya saat duduk di kelas 6 SD.

“Selama sekolah SD saya tidak merasa berbeda. Teman-teman saya semua baik. Tapi saat ujian kelas 6 dan saya harus ujian di sekolah lain di situ saya mulai tertekan. Semua orang melihat saya aneh karena tidak memiliki tangan dan kaki,” jelasnya.

Setelah dinyatakan lulus SD, dia memilih tidak melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai kepercayaan diri. Namun akhirnya dia memilih sekolah di SMPLB.

“Di SMPLB bukan hanya mendapatkan pelajaran sekolah tapi juga pelajaran hidup bagaimana orang difabel seperti saya bisa ikut aktif dalam kegiatan masyarakat,” jelasnya.

Dia kemudian melanjutkan pendidikan di tingkat SMA di sekolah normal. Diskriminasi pun semakin dirasakannya. Selama setahun pertama, dia tidak ditegur oleh teman satu kelas termasuk juga oleh beberapa guru.

“Ada yang bilang jika sekolah ini hanya untuk mereka yang normal bukan lulusan dari sekolah luar biasa seperti saya. Namun bagi saya, kalimat itu adalah cambuk untuk membuktikan bahwa saya bisa berkarya dan berprestasi seperti orang normal pada umumnya,” ungkapnya.

Dia pun memilih aktif di dunia teater dan mendapatkan penghargaan dari Didi Petet sebagai Siswa Terbaik di jenjang pelatihan teater pada tahun 2010 di tingkat Jawa Timur. Masa SMA, menurut dia, adalah masa yang paling berat dialaminya. Pasalnya, setiap hari, dia harus naik ojek lalu naik bus kemudian melanjutkan dengan angkutan umum.

“Dari jalan raya ke sekolah masih harus jalan kaki di aspal panas. Awalnya bagian tubuh bawah saya luka sampai berdarah akhirnya ya terbiasa. Kalau ada teman yang baik biasanya saya nunut naik motor matic di bagian depan,” tuturnya.

Dzuel juga suka dunia musik dan tulis-menulis serta masih aktif menulis puisi karyanya di beberapa media massa.

Kepada Kompas.com, lelaki lajang tersebut bercerita, ibunya mengaku sempat memasukkan dirinya ke dalam tas plastik dan akan dibuang saat mengetahui dirinya terlahir cacat. Namun, hal itu dicegah oleh ibu angkatnya yang kemudian mengasuhnya selama satu tahun.

“Saat mendengar cerita tersebut saya semakin optimistis untuk membuat orangtua dan ibu angkat saya bangga atas kelahiran saya Mereka adalah orang yang mendukung saya selama ini,” tuturnya.

Tetap aktif

Untuk mobilitas sehari-hari, Dzuel menggunakan gokart yang dimodifikasi agar nyaman dikendarai.

“Ini kecepatannya 80 kilometer per jam dan dibuat oleh saya dibantu sama bapak. Kalau biayanya ada sekitar Rp 6juta-Rp 7 juta,” ungkapnya sambil menunjukkan cara mengendarainya.

“Tapi saya nggak pernah ngebut. Ini yang menemani saya motret dan juga kuliah,” tutur mahasiswa jurusan Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi itu.

Setiap hari, dirinya bisa menempuh jarak lebih dari 20 kilometer.

“Rumah saya ke kampus sekitar 13 kilometer dan saya juga kerja menjadi admin di salah satu kantor pengacara,” ujarnya.

Dia berharap bisa mengasah kemampuannya sebagai seorang fotografer profesional, bukan hanya di Banyuwangi tapi juga tingkat nasional dan internasional.

“Buat saya itu adalah impian. Karena karya saya saat ini masih jauh dari sempurna. Masih harus banyak belajar. Selain itu saya juga berharap agar orang difable seperti saya tidak mengalami diskriminasi dan bisa mendapatkan akses terutama untuk pendidikan,” jelas Dzuel.

“Kondisi seperti saya ini bukan kendala, tapi kami hanya beda. Dan saya ingin terus berbagi semangat kepada semua orang terutama yang difable seperti saya bahkan semua orang bisa berkarya , bisa berprestasi apapuun kondisinya,” jelas lelaki yang berkali-kali diundang ke beberapa kampus di wilayah Jawa Timur sebagai motivator ini.

Bahkan, dirinya masih sering datang ke SMPLB, tempatnya bersekolah dulu, untuk mengajak siswa Tuna Daksa menaiki kendaraan dan berkeliling kota.

“Saya lakukan itu untuk menguatkan mental dan memupuk kpercayaan diri mereka,” pungkasnya.