Kemarin, Direktur utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar bertemu dengan menteri BUMN Dahlan Iskan. Pembahasan utamanya soal kerugian perseroan yang mencapai USD 211,7 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun.

Kenaikan kerugian itu hampir dua puluh kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai USD 10,7 juta.

Emir mengaku mengajukan 15 catatan untuk mengatasi kerugian perseroan. Namun setelah bertemu Dahlan Iskan menjadi 25 catatan yang harus dilakukan manajemen.

“Itu yang harus diselesaikan sampai akhir tahun. Kami percaya kami bisa. Itu memang sudah komitmen,” ujar Emir di Jakarta, Kamis (4/9).

Poin utama pekerjaan rumah manajemen Garuda adalah efisiensi operasional. Salah satunya melalui efisiensi rute. Dia menuturkan, rute-rute yang jarang diisi akan ditinggalkan.

“Tapi kalau ada tapi isinya nggak pernah penuh kita ada opsi ganti dengan pesawat yang lebih kecil. Mungkin atau enggak, kita usaha dulu,” ucap dia.

Efisiensi lain dari sisi bahan bakar. Caranya mengatur ulang jadwal penerbangan dan manajemen take off serta landing.

“Rata-rata hampir 15-20 menit harus berputar baru kita bisa mendarat. Apalagi kalau take off itu bisa tunggu 10 antrean. Itu boros sekali bahan bakar,” ucap dia.

Untuk pesawat jenis 737 (boeing 737) mengonsumsi 3.600 liter bahan bakar per 10 menit. “Dikalikan saja berapa menit tadi waktu terbuang untuk berputar-putar,” kata dia.