Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Semarang, mengimbau kepada para nelayan di sepanjang Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura) lebih berhati-hati dalam mencari ikan di perairan laut. Hal ini mengingat tinggi gelombang telah mencapai 3 meter.

Menurut Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Semarang, Rosyidah, ombak Laut Jawa setinggi 3 meter itu karena terkena dampak badai siklon tropis Kalmaegi yang bergerak menuju dataran China.

“Meski di Jawa Tengah tidak terlalu berpengaruh, namun topan Kalmaegi telah membuat angin berembus lebih kencang dan mengakibatkan tinggi gelombang Laut Jawa mencapai 3 meter. Padahal, tinggi gelombang laut yang aman bagi nelayan idealnya berkisar antara 2-2,5 meter,” kata Rosyidah, kepada merdeka.com, Rabu (17/9).

Rosyidah mengatakan, topan Kalmaegi hanya akan berdampak terhadap pelayaran di beberapa daerah wilayah Indonesia bagian barat. Kendati demikian, Rosyidah meminta, para nelayan menunda aktivitas melautnya sembari menunggu badai mereda.

“Karena ombak setinggi itu cenderung berbahaya bagi nelayan. Dampak siklon tropis Kalmaegi ini, masih terjadi sampai tiga hari ke depan. Tapi pengaruhnya sudah melemah,” terang Rosyidah.

Topan Kalmaegi, kata dia, juga mempengaruhi perubahan iklim di Indonesia khususnya Jawa Tengah. Bila pada tahun lalu rentang waktu musim penghujan cukup lama, namun sekarang musim penghujan lebih pendek. Hal itu dibuktikan dengan data prakiraan cuaca dari BMKG yang menyebutkan pada bulan ini sudah memasuki musim kemarau dengan kelembapan udara sangat kering sampai Oktober mendatang.

“Untuk pertengahan bulan ini sudah memasuki puncak kemarau. Kami mengimbau kepada setiap kepala daerah agar mengantisipasi kekurangan air bersih di tiap wilayahnya,” ucapnya.