EQUITYWORLD FUTURES – Kita seringkali tidak menyadari bahwa udara yang dihirup ternyata  mengandung racun. Di dalam ruangan sekalipun, udara terkontaminasi racun.

Bahkan, menurut Ketua Green Building Council Indonesia Siti Adiningsih Adiwoso, bernapas di dalam gedung, jauh lebih buruk dibandingkan dengan ruang terbuka. Padahal, kata Naning, seharusnya bangunan memberikan perlindungan kepada penghuninya.

“80-90 persen manusia berada dalam ruangan, mereka menginginkan ruangan yang nyaman,” ujar Siti yang akrab disapa Naning saat seminar Hari Bangunan Indonesia, di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Kamis (30/10/2014).

Naning menyebutkan, untuk mencapai kenyamanan di dalam ruangan dengan meminimalisasi racun di udara, salah satu caranya adalah menggunakan bahan bangunan berkualitas. Karena, kebanyakan bahan bangunan yang beredar di Indonesia mengandung toksik dan menimbulkan penyakit asma dan alergi. Penyakit ini akan semakin parah diderita oleh generasi mendatang.

“Kita mungkin sekarang tidak merasakannya, tapi younger generation will. Kita tentunya tidak mau seperti ini,” kata Naning.

Dia juga mengatakan, ancaman udara beracun juga muncul dari penggunaan pendingin ruangan. Saat memakai pendingin, ruangan ditutup rapat. Hal ini dapat membuat udara beracun bertahan dan bahkan berkembang. Padahal, selain beracun, penggunaan pendingin juga menghabiskan energi yang cukup banyak yakni 40-60 persen.

Ancaman energi yang habis

Naning memaparkan, pada 2030, Indonesia membutuhkan 60 persen tambahan energi. Karena, penduduk yang menggunakan energi juga semakin banyak.

“Bagaimana jika energi habis? Mungkin Anda bisa mengatakan punya uang untuk membeli energi. Tapi pemerintah bisa tidak menyediakan energi untuk Anda?” tantang Naning.

Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penghematan energi, terlihat juga saat tiba momentum Earth Hour yang jatuh pada bulan Maret setiap tahun. Naning kecewa saat melewati kawasan Pondok Indah, ia menemukan masih banyak penghuni rumah-rumah besar di sana yang menyalakan lampunya.