EQUITYWORLD FUTURES – Bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan FOMC Rabu lalu memutuskan untuk menahan suku bunga acuan Fed Fund Rate.

Bank Indonesia (BI) memandang, keputusan The Fed tersebut memberikan dampak positif bagi pergerakan nilai tukar rupiah.

“Keputusan The Fed untuk menunda kenaikan FFR pada pertemuan FOMC 15 Juni 2016 diperkirakan berdampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara di Jakarta, Kamis (16/6/2016).

Tirta menjelaskan, keputusan The Fed berpengaruh cukup besar terhadap pergerakan mata uang Garuda.

Rupiah kembali menguat pada Juni 2016, setelah sempat melemah pada bulan Mei 2016 akibat meningkatnya risiko pasar keuangan global terkait rencana penyesuaian FFR.

Secara rata-rata, nilai tukar rupiah terdepresiasi 1,95 persen secara bulanan (mtm) ke level Rp 13.434 per dollar AS pada bulan Mei 2016.

Tekanan depresiasi, yang juga dialami mata uang negara-negara lain, didorong meningkatnya risiko global yang dipicu oleh pernyataan The Fed terkait rencana kenaikan FFR.

“Namun, pada awal Juni 2016 rupiah kembali menguat, seiring dengan aliran modal masuk yang kembali meningkat pasca pengumuman data ketenagakerjaan AS yang lebih rendah dari perkiraan,” jelas Tirta.

Modal Asing

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengungkapkan, bank sentral memantau aliran modal asing yang masuk ke Indonesia hingga 13 Juni 2016 sudah mencapai 1,6 miliar dollar AS.

Ini membuat pergerakan nilai tukar rupiah kondusif.

“Terkait nilai tukar, pada bulan Mei kemarin sedikit melemah karena risk off setelah rilis FOMC yang dikeluarkan pada 18 Mei 2016. Setelah tanggal 3 Juni 2016 laporan non-farm payment AS memburuk, akhirnya rupiah kembali menguat,” ungkap Juda.