Potensi kekayaan sektor kelautan dan perikanan disebut-sebut bisa mencapai Rp 3.000 triliun. Namun realisasinya tak lebih dari Rp 300 triliun. Itu membuktikan potensi yang besar tidak mudah dimanfaatkan. Banyak kendala yang membuat kekayaan sektor kelautan dan perikanan tak tergali maksimal.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto membeberkan masalah besar yang dihadapi dalam bisnis sektor kelautan. Masalah ini kemudian membuat sektor kelautan tidak produktif dalam mensejahterakan masyarakat.

Masalah pertama buruknya pengelolaan laut sebagai habitat. Pemerintah dan masyarakat terlihat cuek dalam menjaga kemurnian laut. Buktinya banyak polutan darat yang dibuang begitu saja ke laut.

“Polutan datang dari darat dan sungai sungai. Dampaknya ada implikasi ekonomi dan kesehatan, ekspor kita tersendat karena ada syarat kesehatan yang ketat. Ekspor akan terancam kalau tidak dikendalikan,” ucap SBS sapaan akrab Suryo Bambang Sulisto di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (1/10).

Masalah kedua, banyaknya ilegal fishing dan over fishing. Tindak kriminalitas ini membuat kinerja ekspor produk kelautan dan perikanan menjadi terhambat.

“Ekspor diharapkan masih bisa ditingkatkan karena pasar luas. Tapi ilegal fishing banyak dan kita lemah sumber daya kelautan. Indonesia lahan tidak terjaga tidak termanfaatkan. Kita harus melakukan menjaga dan memanfaatkan. Peluang nelayan masuk laut bebas,” tegasnya.

Masalah lain, Indonesia tidak mempunyai tujuan mendalam di pengelolaan sektor kelautan yang menggunakan sistem good governance. Hal ini ditakutkan ke depannya Indonesia hanya mengejar pertumbuhan kelautan tanpa membawa kemakmuran.

“SDA darat sudah begitu tidak bisa lagi jadi harapan sumber kemakmuran rakyat. Manajemen laut lebih rumit benturan kepentingan. Indonesia belum mempunyai tujuan mendalam. Kita harus lebih prudent, arif dalam investasi kelautan,” tutupnya.