EQUITYWORLD FUTURES – Di tengah situasi keamanan yang tidak menentu di Suriah, tenaga kerja asal (TKW) wanita Indonesia masih dimasukkan ke negara tersebut secara ilegal.

“Ada sejumlah TKW yang secara ilegal tetap dikirim ke Suriah. Kami khawatir sekali karena dalam kondisi dilanda konflik seperti sekarang ini masih ada TKW yang masuk ke Suriah,” kata AM Sidqi, pejabat di KBRI di Damaskus kepada wartawan BBC Indonesia, Mohamad Susilo,  Rabu (7/10/2015).

Sidqi mengatakan pihaknya sulit mencegah masuknya TKW ilegal ini karena titik awalnya bermula dari Indonesia.

“Yang bisa kami lakukan adalah mendesak pemerintah Suriah agar tak menerima TKW dari Indonesia,” jelasnya.

Suriah dilanda konflik tahun 2011 ketika muncul gerakan perlawanan terhadap Presiden Bassar al-Assad.

Pemulangan WNI

Konflik berubah menjadi perang saudara dan peta kekuatan di lapangan menjadi makin kompleks dengan keterlibatan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS), koalisi negara-negara Barat pimpinan Amerika Serikat dan belakangan Rusia mengirim bantuan militer untuk membantu Presiden Assad.

Seiring dengan makin seriusnya gangguan keamanan dan stabilitas, terhitung sejak akhir 2011 pemerintah Indonesia menerapkan moratorium pengiriman tenaga kerja ke Suriah, yang kemudian diubah menjadi penghentian secara permanen.

TKW yang berada di Suriah diminta masuk ke pusat-pusat perlindungan, baik di ibu kota Damaskus maupun di kota-kota lain, untuk kemudian dipulangkan ke Indonesia.

Sidqi mengatakan sejak 2011 pemerintah Indonesia telah memulangkan setidaknya 11.800 orang, sebagian besar adalah pekerja domestik.

“Kami sudah berusaha untuk menghentikan masuknya tenaga kerja ilegal ini, namun tetap saja ada cara-cara gelap untuk menyelundupkan tenaga kerja Indonesia ke Suriah,” kata Sidqi.