Sudah tiga hari sekitar 200 pekerja outsourcing PT. Jasa Marga melakukan aksi mogok kerja. Tindakan tersebut dilakukan karena mereka ingin sistem kerja outsourcing dihapuskan dari perusahaan pelat merah.

Menurut Ketua FSP PPMI PT. Jasa Marga Tbk Cabang Jakarta-Cikampek, Samsuri menuturkan, sistem tenaga kerja alih daya di Jasa Marga sudah mulai diterapkan di bagian inti produksi sejak 2003.

Otomatis, kata dia, kebijakan ini melanggar undang-undang ketenagakerjaan nomor 13 Tahun 2003 yang melarang perusahaan mempekerjakan buruh outsourcing di bagian inti produksi.

“Keputusan mogok kerja tersebut terpaksa kami ambil setelah berbagai upaya dan perundingan yang telah kami tempuh selama tiga tahun diabaikan oleh manajemen perusahaan,” ujar Samsuri di Kantor LBH Jakarta, Jumat (13/6).

Pihaknya sudah berkirim surat berisi pemberitahuan mengenai rencana aksi mogok kerja. Surat tersebut disampaikan kepada manajemen pada 30 Mei 2014.

“DI surat itu kita merencanakan aksi mulai 9 Juni sampai 13 Juni tapi baru kita laksanakan 11 Juni kemarin,” jelasnya.

Hari pertama aksi mogok kerja, pekerja outsourcing menutup akses pintu masuk menuju kantor pusat Jasa Marga di Pondok Gede, Jakarta Timur selama satu jam. Otomatis laju kendaraan yang melintas terhambat. Kali ini mereka akan menggunakan cara lain. “Nanti kita mau beraksi lagi, tapi buka baju di depan kantor pusat,” jelasnya.