EQUITYWORLD FUTURES – Satpolair Polres Banyuwangi menggagalkan transaksi gelap 8.000 liter solar di wilayah selat Bali.

Kasat Polair Polres Banyuwangi AKP Basori Alwi menjelaskan, modus yang dilakukan pelaku adalah memindahkan solar dari kapal tugboat Fortuna Andre ke KM Sarana Sukses yang mengangkut pupuk menuju Lombok.

Pemindahan solar dilakukan di Selat Bali menggunakan selang gulung dan juga alkon

“Sekarang kedua kapal tersebut kami sita untuk dijadikan barang bukti termasuk 8 ribu liter solar yang masih ada di kapal,” ujar Basori, Senin (25/1/2016).

Dia menjelaskan, kapal tugboat tersebut disewa oleh Pertamina yang bertugas untuk memandu kapal niaga yang keluar masuk pelabuhan dan bahan bakar yang digunakan kapal tugboat tersebut adalah milik Pertamina.

“Jadi bahan bakar yang seharusnya di gunakan untuk tugboat dipindahkan ke kapal lain. Dijual tanpa izin resmi dari Petamina. Pemindahan dilakukan pas Jumatan,” tambah Basori.

Satu liter solar dihargai Rp 4.000, jauh dari harga jual solar non subsidi yang dijual dengan harga resmi Rp 11.000 per liter. Total transaksi yang disepakati antara dua kapal tersebut adalah Rp 36 juta.

8.000 ton tersebut adalah sisa pelayaran selama penggunaan 3 bulan yang seharusnya dikembalikan kepada pihak Pertamina.

“Ada lima orang yang kami amankan, termasuk nakhoda, anak buah kapal dan juga satu orang broker atau makelar. Untuk uang tunai ada sekitar Rp 19 juta,” ungkapnya.

Sementara itu, Heppy Wulansari, Area Manager Communication dan Relation Pertamina MOR V menjelaskan bahwa Pertamina sudah menonaktifkan tugboat Fortune Andre hingga permasalahan tersebut selesai dan akan meminta ganti rugi BBM yang dijual oleh tugboat ke pihak lain.

“Fortune Andre sudah dinon-aktifkan dan sekarang sudah ada tugboat pengganti sehingga suplai BBM dari tanker tetap berjalan normal dan tidak mengganggu distribusi BBM ke masyarakat. Dan tentu dengan kejadian ini pihak Pertamina sangat dirugikan dan menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke pihak kepolisian,” tuturnya.