EQUITYWORLD FUTURES – Muhammad Yani tampak duduk bersama beberapa mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Kasim, Riau, di hanggar Lanud Soewondo, Medan, Kamis (2/7). Yani datang dari Natuna ke Medan untuk melihat jasad adiknya Karminto, korban jatuhnya pesawat Hercules di Jalan Jamin Ginting, Medan, Selasa lalu.

Karminto adalah mahasiswa semester empat Jurusan Administrasi Publik di UIN Syarief Kasim.
Selain Karminto, minimal enam mahasiswa UIN lainnya juga meninggal pada peristiwa jatuhnya Hercules.

Hal ini diungkapkan seorang mahasiswa yang kuliah di UIN Syarief Kasim, kemarin.
Mereka adalah Karminto, Musyawir, Uray Sri Rahmadani, Alfin Syahron, Syariah, Basmi dan Rosmiyanti.

“Mereka semua ini satu tim, Bang. Ketua timnya itu Karminto,” kata karib Karminto bernama Rozi di hanggar Lanud Soewondo, Medan, Kamis (2/7/2015) siang.

Ia mengatakan, keberangkatan Karminto dan enam rekannya ke Natuna untuk pulang kampung. Setiap memasuki Ramadan, Karminto memang pulang ke Natuna.

“Dia mau menjenguk keluarganya di Natuna. Alhamdulillah, saya sudah ketemu dengan jasad Karminto,” ujar Rozi.

Berdasarkan keterangan petugas TNI AU, jasad Karminto dikenali lantaran tubuhnya masih utuh. “Selain masih utuh, di tubuhnya juga ditemukan dompet dan identitasnya,” ujar pria bertubuh gempal ini sembari hilir mudik di dekat peti jenazah Karminto.

Berdasarkan penuturan Rozi, rekannya yang belum teridentifikasi masing-masing Syariah, Basmi, Rosmiyanti, dan Uray. “Saya enggak ketemu jasad mereka. Namun, mahasiswa Riau  tidak hanya mereka. Sepertinya ada dua tim. Satu lagi timnya Robi,” ujar Rozi.

Saudara Karminto, Yani, tampak berulang kali mengepalkan tangan, dan kedua matanya berkaca-kaca. Yani mengaku datang ke Medan untuk menjemput jenazah adiknya. “Karminto ini anak keempat  dari lima kami bersaudara. Memang setiap Ramadan, dia selalu pulang. Ia mau Lebaran di kampung,” ungkap Yani.

Sebelum kecelakaan, kata Yani, Karminto sempat menghubungi keluarganya di Natuna.
“Pesan terakhir dari almarhum, dia bilang sudah mau terbang ke Natuna. Saya dapat kabar kecelakaan setelah melihat tayangan televisi,” ungkap Yani.

Ia menyebutkan, Karminto kuliah semester empat Fisipol, Jurusan Administrasi Publik, di UIN Syarif Kasim. Selama kuliah, Yani tidak pernah bertemu dengan adiknya tersebut. “Sudah satu tahun saya enggak ketemu dia. Paling lewat telepon saja,” kata Yani dengan bibir bergetar.

Ia mengungkapkan, setelah mendapat kabar adiknya tewas, keluarga langsung mempersiapkan kedatangan jenazah. “Rencananya Karminto akan dikebumikan di kampung halaman. Semua sudah disiapkan. Kami pun sudah ikhlas,” katanya.

Sedangkan keluarga korban lainnya, kakak beradik Reni Monica Sihotang dan Ruli Yustinus Sihotang tampak menunggu di dekat meja pembaringan peti jenazah. Ketika mendengar suara sirine ambulans, kakak kandung kedua korban, Letnan Satu Penerbang (Lettu Pnb) Andy P Sihotang, spontan berdiri dari tempat duduknya.

Ia kemudian berlari ke arah ambulans yang membawa jasad dua adik kandungnya. Begitu melihat peti jenazah, Andy, yang bertugas di Pontianak ini menangis. Ia kemudian memeluk seorang perempuan yang mengenakan pakaian garis-garis hitam putih.

“Sabar ya bang,” kata perempuan tersebut sambil memeluk Andy. Karena tak kuasa melihat peti jenazah kedua adiknya, Andy terdiam. Ia memejamkan kedua matanya sembari menangis di hadapan jasad adiknya.

Melihat Andy bersedih, kerabat korban langsung menggelar kebaktian di hanggar Lanud Soewondo. Suara lantunan kidung doa pun menggema di hanggar. Pihak keluarga lantas mempersiapkan mobil ambulance untuk membawa pulang kedua korban.

Seorang kerabat Andy mengatakan, kedua kakak beradik tersebut berencana ke Pontianak. “Mereka mau menemui keluarganya di Pontianak. Makanya mereka naik Hercules,” ujar perempuan berambut lurus tersebut.