Volume air di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Jawa Tengah kian menyusut, seiring datangnya musim kemarau. Debit air yang semakin berkurang membuat dasar waduk terbesar di Jawa Tengah tersebut terlihat dan membentuk seperti pulau-pulau kecil. Kondisi ini mengakibatkan terganggunya operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Wonogiri.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak akan berpengaruh pada pasokan listrik di Wonogiri. Lantaran PLTA tersebut memiliki sistem interkoneksi.

Kepala Jasa Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta, Winarno Susilo Adi mengatakan keempat pintu waduk hingga kini masih ditutup. Mengingat ketinggian air waduk saat ini jauh dari normal.

“Per-hari debit air turun 6 hingga 7 centimeter pada musim kemarau ini,” ujar Winarno, kepada wartawan, Selasa (7/10).

Menurut Winarno, terus menyusutnya volume air berdampak pada operasional PLTA Wonogiri yang mengandalkan air WGM. Sejak awal Oktober aliran air ke turbin milik PLTA Wonogiri mati. Akibatnya 4 mesin pembangkit listrik yang ada disana tidak beroperasi.

“Kalau pasokan listrik warga tetap aman, karena PLTA memiliki sistem interkoneksi,” katanya.

Winarno menjelaskan, saat ini ketinggian air waduk mencapai 127,48 meter. Padahal saat kondisi normal ketinggian air waduk mencapai 135,30 meter.
Dengan ketinggian saat ini, debit air yang mampu dikeluarkan dari waduk dibawah 15 meter kubik per detik.

“Kalau cuma 15 meter kubik per detik, tidak mampu menggerakkan turbin. Minimal harus 18 meter kubik per detik. Jika sampai akhir Oktober belum ada hujan, kita akan mengajukan ijin untuk membuat hujan buatan,” pungkasnya.