EQUITYWORLD FUTURES – Jelang hari kemerdekaan Indonesia yang tiap tahun diperingati pada tanggal 17 Agustus, sebagian warga Kota Makassar belum mengibarkan bendera Merah Putih maupun simbol-simbol kemeriahan di depan rumah, kantor, maupun toko-toko yang berada di pinggir jalan-jalan poros.

Dari pantauan di Kota Makassar, Jumat (14/8/2015), kemeriahan HUT ke-70 RI kali ini tidak terlalu tampak. Berbeda dengan 10 tahun sebelumnya, kemeriahan HUT RI mulai terlihat awal bulan Agustus. Masyarakat mulai sibuk membuat pintu gerbang di lorong-lorong, menghias depan rumah dengan umbul-umbul dan bendera Merah Putih, serta memperindah rumah dengan warna cat yang menawan.

Namun kini, tradisi dan rasa nasionalisme itu sudah mulai memudar, bahkan banyak yang tidak lagi mengibarkan bendera Merah Putih.

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto, yang akrab disapa Danny Pomanto, ketika dikonfirmasi via telepon selulernya membenarkan banyaknya warganya yang tidak mengibarkan bendera Merah Putih.

Menurut Danny, kesadaran pemilik gedung perkantoran dan pemilik toko di pinggir jalan poros kurang. Bahkan, kesadaran mereka yang berada di bagian terdepan di jalan poros itu “kalah” dengan masyarakat yang bermukim di gang-gang dan lorong-lorong.

“Iya, saya lihat memang kesadaran pemilik toko, kantor, dan warga pinggir jalan-jalan poros tidak ada. Malah warga lorong-lorong yang banyak punya kesadaran yang lebih banyak. Biarpun sudah diatur dalam Perda, masih banyak warga yang tidak peduli masalah tersebut. Kayaknya mesti lebih dipertegas lagi Perda-nya itu,” kata Danny.

Dengan begitu, Danny akan memerintahkan semua camat dan lurah agar berpatroli di wilayahnya dan menegur warga yang tidak mengibarkan bendera Merah Putih.

“Apa yang dikatakan Pangdam dan Wakapolda dalam acara seminarnya, memang rasa nasionalismenya masyarakat sekarang kurang. Hal itu meski ditumbuhkan lagi dan diperkokoh dengan berbagai cara, termasuk juga dengan masuk dalam kurikulum pendidikan,” tuturnya.

Sementara itu, Panglima Kodam (Pangdam) VII Wirabuana Mayjend Bachtiar membenarkan bahwa tradisi bangsa Indonesia dan rasa nasionalisme masyarakat mulai pudar.

Menurut Mayjen Bachtiar dalam seminar kebangsaan yang digelar di Balai Prajurit Kemanunggalan ABRI dan Rakyat di Jalan Jendral Sudirman, Makassar, empat pilar kebangsaan tidak lagi ditanamkan kepada generasi-generasi penerus. Buktinya, materi-materi tentang kebangsaan tidak lagi dimasukkan dalam kurikulum mata pelajaran.

“Seperti pendidikan Pancasila, kewarganegaraan, kewiraan, sejarah, dan lainnya yang berkaitan dengan kebangsaan serta nasionalisme itu tidak ada lagi di mata pelajaran. Mudah-mudahan Menteri Pendidikan Anis Baswedan kembali memasukkan materi pelajaran tentang kebangsaan dan nasionalisme itu dalam kurikulum baru,” katanya.

Wakil Kepala Polda Sulselbar Brigadir Jenderal Polisi Ike Edwin juga berpendapat senada. Dia menuturkan, anak bungsunya pernah tidak mengetahui dan mengenal lagu-lagu kebangsaan. Karena itu, dia terpaksa membeli kaset-kaset yang berisi lagu kebangsaan untuk anaknya yang masih kecil.

“Lagu kemerdekaan, lagu kebangsaan lainnya pernah tidak ketahui oleh anak saya yang masih kecil. Sampai saya membeli kasetnya. Beda dengan kita-kita dulu ini, semua kita tahu itu lagu dan dasarnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” katanya.