Limbah-limbah radioaktif sisa reaktor nuklir dikenal sangat berbahaya. Untuk mencegah pencemaran limbah radioaktif, banyak negara terpaksa menyimpan limbah-limbah tersebut dalam waktu yang sangat lama. Kini Hitachi tengah mencari jalan keluar terbaik untuk memanfaatkan limbah-limbah tersebut.

Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara maju sekalipun nuklir masih menjadi sumber energi yang ditakuti. Meskipun dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar dan murah, limbah hasil pemrosesan nuklir, misalnya air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor dan menghasilkan uap panas, sampai saat belum dapat ditangani dengan baik.

Uniknya, limbah-limbah yang paling berbahaya atau dengan radiasi paling tinggi sebenarnya adalah limbah yang dapat dengan cepat ternetralisir. Sebaliknya, limbah-limbah nuklir dengan radiasi rendah atau limbah ‘transuranium’ justru dapat terus mengeluarkan radiasi hingga jutaan tahun. Limbah-limbah transuranium biasanya adalah hasil kontaminasi dengan unsur nuklir dengan nomor atom di atas 92. Sehingga usaha untuk menyimpan limbah-limbah tersebut menjadi masalah besar dan sering menghabiskan dana besar.

Di sini lah Hitachi memunculkan gagasan untuk membuat sebuah reaktor generasi baru yang dapat memanfaatkan limbah transuranium sebagai bahan bakarnya. Untuk menjalankan misi ini, Hitachi menggandeng universitas-universitas besar seperti MIT, Universitas Michigan, dan Universitas California. Bersama-sama, mereka mengembangkan desain dari reaktor baru yang dapat membuat reaktor nuklir menjadi lebih efisien.

Reaktor nextgen ini dibuat berdasarkan desain reaktor berbasis air (Resource-renewable Boiling Water Reactors atau RBWR) milik Hitachi. Lebih lanjut, Hitachi dan universitas-universitas tersebut tidak akan membuat sebuah reaktor utuh, melainkan membuat komponen yang dapat dengan mudah dipasangkan pada reaktor RBWR agar reaktor tersebut bisa memproses limbah transuranium.

Ternyata, Hitachi telah memulai proyek ini sejak tahun 2007 silam. Saat ini, mereka tengah fokus untuk meneliti keamaanan dan performa dari reaktor baru tersebut, Gizmag (03/09).